BERITA

Doa Lintas Agama Kenang Kezia

Jumat, 20 Januari 2017 | 06:43 WIB
AFP/Getty/Independent Sebuah poster kampanye gerakan anti-perkosaan yang ditempel di sebuah pasar di Monrovia, Liberia.

SORONG, KOMPAS.com--Masyarakat Kompleks Kokoda, Kota Sorong, Papua Barat, menggelar doa bersama lintas agama PADA ACARA malam renungan tujuh hari kematian Kezia, bocah lima tahun yang diperkosa dan dibunuh pada 10 Januari 2017.

Malam renungan dan doa bersama Selasa (17/1) itu, dihadiri para pemuka agama Kristen, Islam dan Katolik mendoakan almarhum Kezia dengan harapan dia diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Kokoh Agama Ustazd Kilian di Sorong, Rabu, mengajak masyarakat mendoakan Kezia agar mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Ia juga mengajak masyarakat mendoakan dan mengawal proses hukum kasus pemerkosaan dan pembunuhan Kezia hingga putusan hukum yang adil.

Setiap manusia sudah pasti akan menemui ajalnya, namun kematian Kezia tidak wajar dan pelaku penyebab kematian gadis kecil itu harus diproses hukum sesuai perbuatannya," ujar Ustazd Kilian.

Tokoh Agama Pendeta Yening Sepi yang memberikan keterangan terpisah, mengatakan bahwa peristiwa pemerkosaan yang berujung kematian Kezia berawal dari pelaku konsumsi minuman keras.

Karena itu, dia berharap Pemerintah Kota Sorong bahkan Papua Barat harus menghentikan peredaran minuman keras di daerah itu karena minuman keras adalah sumber kejahatan.

Sementara itu, aktivis Perempuan Kota Sorong Olha Irianti Mulalinda memberikan apresiasi terhadap kepolisian yang menerapkan undang-undang perlindungan anak nomor 17 tahun 2016 kepada tiga pelaku pemerkosaan dan pembunuhan Kezia.

Menurut dia, undang-undang perlindungan anak nomor 17 tahun 2016 itu, ancaman hukuman bagi pelaku sangat tinggi bahkan hukuman mati.

"Harapan kami ketiga pelaku pemerkosaan dan pembunuhan Kezia dihukum berat sesuai dengan perbuatannya," ungkap Olha.

Berita Lainnya